Sabtu, 01 Januari 2011 | Diposting oleh hildan di 21.26 | 0 komentar
Mengagumkan, Hewan yang mampu hidup Diluar Angkasa!
Tardigrades pertama kali dideskripsikan oleh Eprhaim Goeze pada tahun 1773. Nama Tardigrada berarti “pejalan lambat” yang diberikan oleh Spallanzani (1777). Panjang tubuh tardigrades dewasa adalah 1,5 mm, paling kecil ukurannya 0,1 mm, larvanya berukuran 0,05 mm.
Tardigrades bisa ditemukan di semua bagian dunia, mulai dari puncak Himalaya hinngga di dasar samudera, dan dari kutub hingga di bagian ekuator.
Tempat yang paling disukai di tempat berganggang. Di pantai, tanah maupun di air dapat dijumpai binatang mini ini.
Hal yang paling menarik dari hewan ini adalah kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan yang sangat ekstrim. Tardigrades dapat bertahan di lingkungan yang beku (0oc) hingga di tempat yang bertemperatur tinggi (151oc). Bahkan dapat bertahan terhadap radiasi 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah radiasi di mana makhluk hidup lain dapat bertahan. Oleh karena itu, tardigrades dikenal sebagai hewan yang polyextremeophiles .
Dengan kemampuan tersebut, tardigrades merupakan makhluk hidup yang dapat bertahan bila terjadi perang nuklir atau bencana alam lain yang ekstrim. Bahkan tardigrades dapat hidup selama 120 tahun dalam kondisi kering.
Kemampuan unik lainnya dari tardigrades adalah dapat bertahan di keadaan angkasa luar yang hampa udara. Pada satu penelitian di September 2007, tardigrades dapat hidup selama selama 10 hari di lingkungan luar angkasa. Tardigrades yang mengangkasa menggunakan pesawat luar angkasa FOTON-M3 oleh European Space Agency, dapat bertahan hidup dapat keadaan hampa udara, terpapar sinar kosmik, dan bahkan dapat bertahan terhadap radiasi UV matahari 1000 kali lebih tinggi dibandingkan radiasi di permukaan bumi.
Sumber : habit
| Diposting oleh hildan di 20.45 | 0 komentar
2020 Indonesia Akan Menjadi Pengimpor Energi Terbesar
Solo - Pada 2020, Indonesia diprediksi menjadi salah negara di dunia pengimpor energi terbesar jika masih masih mengandalkan sumber energi konvensional, kata Kepala BATAN Hudi Hastowo, Sabtu.
Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Indonesia telah mengimpor bahan bakar minyak (BBM) 350 ribu barel per hari, dan subsidi yang dikeluarkan mencapai Rp70 triliun.
"Kondisi seperti ini apabila tidak dicarikan alternatif lainnya untuk memenuhi energi ini jelas akan sangat berat," katanya.
Berbagai alternatif dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional telah diambil pemerintah, diantaranya pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
Salah satunya adalah energi nuklir, meskipun rencana pemanfaatannya masih telatif sedikit.
"Program nuklir semata-mata jangan hanya dilihat segi negatifnya, tetapi juga harus dilihat positifnya," kata Hudi.
BATAN sendiri telah merekomendasikan tiga tempat di Ujung Lemah Abang, Ujung Watu dan Ujung MUria di Kabupaten Jepara, Jawa Tengahm, sebagai situs pengembangan energi alternatif, listrik tenaga nuklir.
"Di Jepang salah satu negera yang sangat rawan gempa saja memiliki 55 pusat listrik tenaga nuklir (PLTN). Nantinya Indonesia juga akan seperti Jepang. Untuk itu mulai sekarang harus terus menyiapkan diri menangani masalah ini," katanya.
BATAN, terangnya, sedang mengajukan ususlan ke Badan Nuklir Dunia untuk melakukan pengecekan dan kesiapan mengenai pembangunan listrik bertenaga nuklir. [muslimdaily.net/ant]
| Diposting oleh hildan di 20.43 | 0 komentar
Proses produksi bahan bakar nuklir di IEBE
Instalasi Elemen Bakar Eksperimental (IEBE) adalah salah satu instalasi nuklir di Kawasan Nuklir Serpong. Instalasi ini digunakan untuk litbang teknologi produksi bahan bakar nuklir untuk reaktor daya (PLTN), yaitu:
Produk serbuk UO2 kemudian dikirim ke bagian fabrikasi untukdiproses lebih lanjut menjadi produk akhir berupa perangkat bakar nuklir (fuel bundles). Proses fabrikasi meliputi: pembuatan pelet UO2sinter, penyiapan komponen dan perakitan elemen bakar, serta perakitan perangkat bakar nuklir.
IEBE pada dasarnya adalah pabrik bahan bakar nuklir skala pilot dengan kapasitas produksi 100 kg serbuk UO2 per-hari dan 3 perangkat bakar HWR per-hari. Instalasi ini dibangun untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing ilmiah-teknis nasional dalam pengembangan dan penerapan sistem energi nuklir yang berkelanjutan.
Proses Produksi Serbuk UO2

Fabrikasi Perangkat Bakar

Proses fabrikasi perangkat bakar di IEBE meliputi: pembuatan pelet UO2 sinter, pembuatan komponen perangkat bakar (spacer, pad, end cap, end plate, dan penyiapan kelongsong), perakitan elemen bakar dan perangkat bakar. Bahan dasar yang digunakan meliputi serbuk UO2 alam, zircaloy-2 (tube, strip dan bar), serbuk grafit, dan beryllium strip.
Salah satu komponen utama elemen bakar nuklir reaktor daya tipe LWR maupun HWR adalah pelet UO2densitas tinggi berbentuk silindris. Pelet ini dibuat dari serbuk UO2 melalui proses kompaksi dingin dan sintering suhu tinggi (1700oC) dalam suasana gas hidrogen.
Tujuan peletisasi UO2 adalah mendapatkan densitas bahan bakar yang tinggi (94 – 96% densitas teori), menciptakan kungkungan yang kuat bagi nuklida hasil fisi, serta mendapatkan geometri yang seragam dan standar sesuai persyaratan.
Proses peletisasi diawali dari pencampuran serbuk UO2 dengan pelumas Zn-stearat dan kemudian dikompakan dengan mesin kompaksi. Kompakan UO2 yang diperoleh kemudian dihancurkan lagi dan dibentuk butiran-butiran melalui proses crushing, granulating and sieving.
Proses granulasi dilakukan mengingat serbuk UO2 yang digunakan adalah serbuk hasil proses pengendapan ADU yang berukuran halus dan berbentuk tidak beraturan sehingga sangat sulit dikompakkan secara dingin (cold pressing).
Terhadap butiran UO2 kemudian dilakukan proses pengompakan akhir secara dingin menjadi pelet mentah (green pellet) yang harus memenuhi persyaratan dimensi dan densitas (50 - 60% densitas teori). Densitas pelet mentah yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh tekanan pengompakkan, karakteristik serbuk, dan adanya bahan tambahan atau aditif.
Pengompakan akhir dilakukan dengan mesin tekan tipe double acting press yang dapat beroperasi secara kontinyu. Pengompakan akhir ini dilakukan pada tekanan yang lebih tinggi dibandingkan tekanan pada pengompakan awal agar diperoleh densitas pelet mentah 5 - 6 gr/cm3 atau 50 - 60% densitas teori.
Untuk mendapatkan pelet berderajat keramik dan memiliki densitas tinggi (sekitar 95% densitas teori) dilakukan proses penyinteran terhadap pelet mentah.
Secara umum penyinteran didefinisikan sebagai suatu proses dimana serbuk yang dicetak-tekan menjadi massa yang kompak melalui pemanasan pada temperatur di bawah titik leburnya.
Di IEBE proses penyinteranpelet UO2 dilakukan pada temperatur sekitar 1700 oC selama 3 – 4jam dalam suasana atmosfir reduksi (gas H2). Proses sintering ini akan menghasilkan pelet UO2 berderajat keramik yang keras dan kuat dengan densitas 95 – 96 % densitas teori UO2.

Pembuatan bantalan (spacer & pad) diawali denganpemotongan lembaran zircalloy menjadi pelat kecil (sub pelat). Kemudian salah satu sisi sub pelat dilapisi dengan berilium (Be) yang dilakukan dalam mesin penguap Be. Mengingat toksisitas Be yang tinggi, pekerjaan pelapisan dilakukan di ruang khusus untuk menangani Be. Sub pelat yang telah terlapisi Be kemudian dibentuk menjadi penjarak (spacers) dan bantalan (pads) dengan mesin press yang dilakukan di dalam glovebox.
End capsdibentuk dari Zircalloy rod, setelah dipotong kemudian dibubut dengan mesin bubut pusat (SchaublinLathe). Adapunend plates dibuat dari lembaran/pelat Zircalloy yang dipotong sesuai persayaratan ukuran kemudian di-milling. Setiapend plate diberi cap (tanda) untuk memudahkan dalam perakitan berkas (identifikasi).
Dalam Penyiapan kelongsong, Zircalloy tubedipotong sesuai panjang kelongsong. Kemudian dibawa ke Lab. Be untuk ditempeli spacer dan pad. Proses penempelan pertama-tama dilakukan dengan alat tack weldingdan dilanjutkan dengan proses patri keras (brazing).
Proses selanjutnya adalah melapisi permukaan bagian dalam kelongsong dengan grafit. Pelapisan dilakukan dengan mengalirkan suspensi koloidal grafit ke dalam kelongsong sehingga terbentuk lapisan tipis, dan kemudian dipanggang dalam vakum tinggi grafit yang menempel dengan kuat.
Tahapan proses perakitan elemen bakar (pin) meliputi pengelasan end cap pertama dengankelongsong, pemasukan baris pelet UO2 sinter ke dalam kelongsong yang salah satu ujungnya telah ditutup dengan end cap, pengelasan end capkedua, pengerjaan akhir ujung-ujung batang dan pencucian.
Proses pengelasan end cap - kelongsong dilakukan dengan mesin las restansi gaya magnit (magnetic force resistance welding machine) di dalam kotak khusus yang kedap udara ( welding box ) sehingga kotak tersebut bisa divakumkan dan diisi kembali dengan gas pelindung las ( He, Ar ). Tujuan pemvakuman ini adalah untuk menghindari oksidasi selama proses pengelasan. Tekanan pemvakuman mencapai 10 -3 torr dan tekanan gas pelindung sekitar 1 atm.
Selanjutnya kelonsong diisi dengan pelet UO2sinter yang telah dikeringkan pada kondisi vakum tinggi. Kemudian kelongsong ditutup dengan end cap kedua dengan cara pengelasan memakai las gaya magnetik. Dalam waktu bersamaan diisikan pula gas He. Bekas-bekas lasan luar dihilangkan dengan mesin bubut dan dilakukan pembentukan tutup ujung elemen bakar nuklir sebagai proses pengerjaan akhir.
Setelah elemen bakar selesai dibuat, dilakukan perakitan menjadi perangkat bakar nuklir. Sebanyak 18 buah elemen bakar yang telah dipersiapkan pada tahapan sebelumnya, disusun pada alat pemegang (jig and fixture) yang dilengkapi dengan pelat ujung. Pengelasan dilakukan satu persatu melalui urutan tertentu dengan memakai sistem las titik (resistance spot welding).
Tahapan paling akhir yang dilakukan adalah proses oksidasi berkas elemen bakar dengan alatautoclaving. Proses ini dimaksudkan untuk membentuk lapisan tipis oksida-ZrO2 pada permukaan batang elemen bakar yang akan meningkatkan ketahanan korosi perangkat bakar dalam servisnya di teras reaktor. Autoclaving dilakukan dalam tungku bejana tekan yang berisi uap air pada temperatur sekitar 400 0C dan tekanan 10 atm selama waktu 24 jam.
Pengujian Kualitas
Pengujian dilakukan terhadap serbuk UO2 dan pelet UO2 serta Zircaloy (kelongsong, bar dan strip) bertujuan untuk mengendalikan dan mem-pertahankan kualitas produk – perangkat bakar.
Pengujian untuk serbuk uranium dioksida meliputi pengujian komposisi isotopik uranium, komposisi kimia (kandungan uranium total, O/U ratio, kadar pengotor, kadar air, kadar Cl- dan F), ukuran partikel, densitas ketuk, dan luas muka.

Pengujian kualitas pelet UO2 hasil sinter meliputi pengujian geometri, kekasaran permukaan, struktur mikro, komposisi isotopik uranium, O/U ratio, kandungan F dan Cl, kandungan C (karbon), H (hidrogen) dan N (nitrogen).
Pengujian bahan Zircalloy meliputi pengujian ultrasonik, metalografi, korosi, kimia (kandungan C, kandungan N, kandungan H, dan komposisi Fe, Cr, Ni, Sn.).
Pengujian elemen bakar (batang bahan bakar), meliputi pengujian visual, dimensi, kebocoran, kontaminasi Uranium pada permukaan elemen bakar, tekanan internal gas elemen bakar, struktur mikro lasan end cap - kelongsong, uji mekanik (uji tarik, uji sobek).
Pengujian perangkat bakar (fuel bundle) meliputi pengujian visual, dimensi, kebocoran, kontaminasi Uranium, berat perangkat bakar, struktur mikro lasan end plate – elemen bakar, uji mekanik (ketahanan puntir lasan end plate).
Penutup
Kemampuan dan penguasaan teknologi produksi bahan bakar nuklir diharapkan dapat meningkatkanbargainning power terhadap opsi domestifikasi industri bahan bakar nuklir yang merupakan salah satu upaya strategis untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas nasional dalam program introduksi PLTN pada tahun 2025, maupun untuk mendukung pengembangan dan penerapan sistem energi nuklir inovatif di masa mendatang dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.
Kegiatan pengembangan teknologi yang saat ini sedang dilaksanakan di IEBE diprioritaskan untuk mendapatkan:
- Pemurnian dan konversi Yellow Cake menjadi serbuk UO2 derajat nuklir, dan
- Fabrikasi perangkat bakar nuklir untuk PLTN tipe reaktor air berat (HWR).
Produk serbuk UO2 kemudian dikirim ke bagian fabrikasi untukdiproses lebih lanjut menjadi produk akhir berupa perangkat bakar nuklir (fuel bundles). Proses fabrikasi meliputi: pembuatan pelet UO2sinter, penyiapan komponen dan perakitan elemen bakar, serta perakitan perangkat bakar nuklir.
IEBE pada dasarnya adalah pabrik bahan bakar nuklir skala pilot dengan kapasitas produksi 100 kg serbuk UO2 per-hari dan 3 perangkat bakar HWR per-hari. Instalasi ini dibangun untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing ilmiah-teknis nasional dalam pengembangan dan penerapan sistem energi nuklir yang berkelanjutan.
BongkahanYellow Cake (dalam wadah drum 200 liter) dihancurkan dan kemudian diayak. Butiran yang lolos ayakan dilarutkan dalam asam nitrat (HNO3) membentuk larutan uranil nitrat (UNH) untuk umpan proses pemurnian. Pelarutan ini sekaligus memisahkan unsur-unsur pengotor yang tak larut dalam asam nitrat. Pemisahan dilakukan dengan cara sentrifugasi.
Larutan UNH bebas pengotor tak larut, dibawa ke seksi pemurnian untuk diambil pengotor terlarut dengan metode ekstraksi pelarut organik (TBP-Kerosene). Proses pemurnian ini menggunakan duaMixer Settler, yang pertama untuk ekstraksi (pengambilan pengotor) dan yang kedua untuk re-ekstraksi (pengambilan U-murni).
Proses ekstraksi diawali dengan mereaksikan UNH dengan TBP - Kerosene. Reaksi ini menghasilkan kompleks organik (UO2(NO3)2.TBP) yang larut dalam kerosene. Oleh karena pengotor tidak beraksi dengan TBP dan tetap berada dalam fasa air, maka pengotor dapat dipisahkan dari uranium fasa organik dalam kerosene.
Proses re-ekstrasi dilakukan dengan mereaksikan larutan uranium fasa organik dengan asam nitrat encer. Uranium dalam fasa organik akan bereaksi dengan asam nitrat membentuk fasa air UNH yang terpisah dari TBP-Kerosene. Larutan UNH murni ini kemudian dipekatkan dengan cara penguapan, dan selanjutnya direaksikan dengan NH4OH membentuk endapan ammonium diuranate (ADU - (NH4)2U2O7). Endapan ADU dipisahkan dari air induknya dengan sentrifugasi.
Endapan ADU yang diperoleh kemudian dikeringkan dengan aliran udara panas dan selanjutnya dikalsinasi pada temperatur 700 oC dalam atmosfir udara. Proses ini akan menghasilkan serbuk U3O8. Untuk mendapatkan serbuk UO2, dilakukan proses reduksi oksida terhadap serbuk U3O8. Proses dilakukan dengan cara memanaskan serbuk U3O8 pada temperatur 700 oC dalam atmosfir gas hidrogen.
Serbuk UO2 hasil reduksi kemudian dipasifkan dengan cara mengalirkan campuran udara dan nitrogen pada suhu kamar. Proses ini bertujuan agar UO2 yang diperoleh terlindungi dari kontak dengan uap air yang terkandung di udara. Apabila tidak dipasivasi, UO2 hasil reduksi akan bereaksi dengan uap air yang terkandung dalam udara membentuk U3O8 kembali.Fabrikasi Perangkat Bakar
Proses fabrikasi perangkat bakar di IEBE meliputi: pembuatan pelet UO2 sinter, pembuatan komponen perangkat bakar (spacer, pad, end cap, end plate, dan penyiapan kelongsong), perakitan elemen bakar dan perangkat bakar. Bahan dasar yang digunakan meliputi serbuk UO2 alam, zircaloy-2 (tube, strip dan bar), serbuk grafit, dan beryllium strip.
Salah satu komponen utama elemen bakar nuklir reaktor daya tipe LWR maupun HWR adalah pelet UO2densitas tinggi berbentuk silindris. Pelet ini dibuat dari serbuk UO2 melalui proses kompaksi dingin dan sintering suhu tinggi (1700oC) dalam suasana gas hidrogen.
Tujuan peletisasi UO2 adalah mendapatkan densitas bahan bakar yang tinggi (94 – 96% densitas teori), menciptakan kungkungan yang kuat bagi nuklida hasil fisi, serta mendapatkan geometri yang seragam dan standar sesuai persyaratan.
Proses peletisasi diawali dari pencampuran serbuk UO2 dengan pelumas Zn-stearat dan kemudian dikompakan dengan mesin kompaksi. Kompakan UO2 yang diperoleh kemudian dihancurkan lagi dan dibentuk butiran-butiran melalui proses crushing, granulating and sieving.
Proses granulasi dilakukan mengingat serbuk UO2 yang digunakan adalah serbuk hasil proses pengendapan ADU yang berukuran halus dan berbentuk tidak beraturan sehingga sangat sulit dikompakkan secara dingin (cold pressing).
Terhadap butiran UO2 kemudian dilakukan proses pengompakan akhir secara dingin menjadi pelet mentah (green pellet) yang harus memenuhi persyaratan dimensi dan densitas (50 - 60% densitas teori). Densitas pelet mentah yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh tekanan pengompakkan, karakteristik serbuk, dan adanya bahan tambahan atau aditif.
Untuk mendapatkan pelet berderajat keramik dan memiliki densitas tinggi (sekitar 95% densitas teori) dilakukan proses penyinteran terhadap pelet mentah.
Secara umum penyinteran didefinisikan sebagai suatu proses dimana serbuk yang dicetak-tekan menjadi massa yang kompak melalui pemanasan pada temperatur di bawah titik leburnya.
Di IEBE proses penyinteranpelet UO2 dilakukan pada temperatur sekitar 1700 oC selama 3 – 4jam dalam suasana atmosfir reduksi (gas H2). Proses sintering ini akan menghasilkan pelet UO2 berderajat keramik yang keras dan kuat dengan densitas 95 – 96 % densitas teori UO2.
Pembuatan bantalan (spacer & pad) diawali denganpemotongan lembaran zircalloy menjadi pelat kecil (sub pelat). Kemudian salah satu sisi sub pelat dilapisi dengan berilium (Be) yang dilakukan dalam mesin penguap Be. Mengingat toksisitas Be yang tinggi, pekerjaan pelapisan dilakukan di ruang khusus untuk menangani Be. Sub pelat yang telah terlapisi Be kemudian dibentuk menjadi penjarak (spacers) dan bantalan (pads) dengan mesin press yang dilakukan di dalam glovebox.
End capsdibentuk dari Zircalloy rod, setelah dipotong kemudian dibubut dengan mesin bubut pusat (SchaublinLathe). Adapunend plates dibuat dari lembaran/pelat Zircalloy yang dipotong sesuai persayaratan ukuran kemudian di-milling. Setiapend plate diberi cap (tanda) untuk memudahkan dalam perakitan berkas (identifikasi).
Proses selanjutnya adalah melapisi permukaan bagian dalam kelongsong dengan grafit. Pelapisan dilakukan dengan mengalirkan suspensi koloidal grafit ke dalam kelongsong sehingga terbentuk lapisan tipis, dan kemudian dipanggang dalam vakum tinggi grafit yang menempel dengan kuat.
Tahapan proses perakitan elemen bakar (pin) meliputi pengelasan end cap pertama dengankelongsong, pemasukan baris pelet UO2 sinter ke dalam kelongsong yang salah satu ujungnya telah ditutup dengan end cap, pengelasan end capkedua, pengerjaan akhir ujung-ujung batang dan pencucian.
Proses pengelasan end cap - kelongsong dilakukan dengan mesin las restansi gaya magnit (magnetic force resistance welding machine) di dalam kotak khusus yang kedap udara ( welding box ) sehingga kotak tersebut bisa divakumkan dan diisi kembali dengan gas pelindung las ( He, Ar ). Tujuan pemvakuman ini adalah untuk menghindari oksidasi selama proses pengelasan. Tekanan pemvakuman mencapai 10 -3 torr dan tekanan gas pelindung sekitar 1 atm.
Selanjutnya kelonsong diisi dengan pelet UO2sinter yang telah dikeringkan pada kondisi vakum tinggi. Kemudian kelongsong ditutup dengan end cap kedua dengan cara pengelasan memakai las gaya magnetik. Dalam waktu bersamaan diisikan pula gas He. Bekas-bekas lasan luar dihilangkan dengan mesin bubut dan dilakukan pembentukan tutup ujung elemen bakar nuklir sebagai proses pengerjaan akhir.
Setelah elemen bakar selesai dibuat, dilakukan perakitan menjadi perangkat bakar nuklir. Sebanyak 18 buah elemen bakar yang telah dipersiapkan pada tahapan sebelumnya, disusun pada alat pemegang (jig and fixture) yang dilengkapi dengan pelat ujung. Pengelasan dilakukan satu persatu melalui urutan tertentu dengan memakai sistem las titik (resistance spot welding).
Pengujian Kualitas
Pengujian dilakukan terhadap serbuk UO2 dan pelet UO2 serta Zircaloy (kelongsong, bar dan strip) bertujuan untuk mengendalikan dan mem-pertahankan kualitas produk – perangkat bakar.
Pengujian untuk serbuk uranium dioksida meliputi pengujian komposisi isotopik uranium, komposisi kimia (kandungan uranium total, O/U ratio, kadar pengotor, kadar air, kadar Cl- dan F), ukuran partikel, densitas ketuk, dan luas muka.
Pengujian kualitas pelet UO2 hasil sinter meliputi pengujian geometri, kekasaran permukaan, struktur mikro, komposisi isotopik uranium, O/U ratio, kandungan F dan Cl, kandungan C (karbon), H (hidrogen) dan N (nitrogen).
Pengujian bahan Zircalloy meliputi pengujian ultrasonik, metalografi, korosi, kimia (kandungan C, kandungan N, kandungan H, dan komposisi Fe, Cr, Ni, Sn.).
Pengujian elemen bakar (batang bahan bakar), meliputi pengujian visual, dimensi, kebocoran, kontaminasi Uranium pada permukaan elemen bakar, tekanan internal gas elemen bakar, struktur mikro lasan end cap - kelongsong, uji mekanik (uji tarik, uji sobek).
Pengujian perangkat bakar (fuel bundle) meliputi pengujian visual, dimensi, kebocoran, kontaminasi Uranium, berat perangkat bakar, struktur mikro lasan end plate – elemen bakar, uji mekanik (ketahanan puntir lasan end plate).
Penutup
Kemampuan dan penguasaan teknologi produksi bahan bakar nuklir diharapkan dapat meningkatkanbargainning power terhadap opsi domestifikasi industri bahan bakar nuklir yang merupakan salah satu upaya strategis untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas nasional dalam program introduksi PLTN pada tahun 2025, maupun untuk mendukung pengembangan dan penerapan sistem energi nuklir inovatif di masa mendatang dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.
Kegiatan pengembangan teknologi yang saat ini sedang dilaksanakan di IEBE diprioritaskan untuk mendapatkan:
- Kemampuan memproduksi pelet UO2 sinter sesuai persyaratan,
- Kemampuan melaksanakan pengelasan tutup ujung – kelongsong sesuai spesifikasi,
- Kemampuan melaksanakan sintesa dan karakterisasi bahan struktur elemen bakar nuklir (zircalloy),
- Kemampuan melaksanakan uji kualitas sesuai standar yang ditetapkan, serta
- Kemampuan mengelola instalasi nuklir yang aman dan selamat.
(Bambang Herutomo (herutomo@batan.go.id)
| Diposting oleh hildan di 20.41 | 0 komentar
Putra-putri Indonesia mampu mengoperasikan PLTN
Sebenarnya Indonesia sudah mengoperasikan tiga unit reaktor nuklir untuk keperluan penelitian serta beberapa fasilitas nuklir yang meliputi fabrikasi elemen bakar nuklir, produksi isotop, pengolahan limbah nuklir dan iradiator/akselerator. Semua fasilitas tersebut dioperasikan dan dirawat oleh SDM Indonesia.
Sampai saat ini memang Indonesia belum mempunyai atau mengoperasikan PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir), akan tetapi didasari oleh pertimbangan bahwa kebutuhan energi listrik nasional mengalami peningkatan terus seiring dengan pertumbuhan ekonomi sedangkan cadangan sumber energi fosil, khususnya minyak bumi, sudah semakin menipis, maka pilihan untuk mulai membangun dan mengoperasikan reaktor nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik tidak dapat dielakkan lagi.
Wajar saja kalau muncul pertanyaan atau keraguan di masyarakat bahwa SDM Indonesia mampu mengoperasikan PLTN, karena memang belum mempunyai pengalaman untuk itu. Sebagaimana implementasi teknologi baru lainnya, SDM pendukung teknologi tersebut harus dipersiapkan sebelumnya, bahkan mungkin diperlukan waktu yang cukup panjang tergantung pada tingkat kerumitan atau kecanggihan dari teknologi tersebut. PLTN merupakan salah satu fasilitas yang menerapkan teknologi canggih dan kompleks walaupun begitu bukan berarti bahwa SDM Indonesia tidak mampu mengoperasikannya.
Pada dasarnya, daerah kerja di fasilitas PLTN dapat dibedakan menjadi dua daerah yaitu daerah nuklir (nuclear island) yang meliputi reaktor nuklirnya itu sendiri, yang berfungsi sebagai pembangkit panas, dan daerah bukan nuklir (non nuclear island) yang meliputi turbin, generator, dan peralatan lainnya yang berfungsi untuk membangkitkan listrik dan mendistribusikannya. Fasilitas lain pendukung segala jenis reaktor nuklir nuklir, termasuk reaktor nuklir penelitian, adalah fasilitas pengolahan limbah radioaktif.
Sebagai usaha untuk menjamin keandalan dan keselamatan terhadap pengoperasian PLTN, semua personil yang akan menduduki setiap jabatan di fasilitas ini harus memenuhi kualifikasi teknis tertentu yang meliputi persyaratan pendidikan, pengalaman kerja, dan pelatihan termasuk “on the job training”, serta di beberapa jabatan tertentu bahkan dipersyaratkan untuk memiliki lisensi (surat izin bekerja) yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi personil (LSP) yang independen.
Dalam rangka penyiapan SDM kenukliran secara umum, BATAN telah menjalin kerjama dengan beberapa perguruan tinggi di dalam negeri di antaranya Fakultas Teknik – UGM untuk bidang studi teknik nuklir dan Departemen Fisika – UI untuk bidang studi fisika medik, serta beberapa perguruan tinggi negeri lainnya misalnya ITB, Undip, Unpad dan IPB. Selain itu BATAN memiliki sekolah kedinasan di bidang nuklir yaitu Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) di Yogyakarta yang merupakan pendidikan program diploma IV.
BATAN juga secara reguler menyelenggarakan pelatihan kenukliran baik bagi para personilnya maupun bagi instansi lain pengguna teknologi nuklir. Jenis pelatihan kenukliran yang diselenggarakan oleh Pusdiklat BATAN dapat dikelompokan sebagai berikut.
- Keselamatan nuklir dan radiasi
- Aplikasi isotop dan radiasi
- Reaktor nuklir dan energi
- Bahan Bakar Nuklir dan Bahan Nuklir
- Instalasi dan Instrumentasi Nuklir
Sejak tahun 2008 Pusdiklat BATAN yang bergabung di dalam Tim Nasional Penyiapan SDM PLTN secara khusus telah menyusun dokumen teknis tentang analisis kebutuhan pelatihan bagi SDM PLTN serta telah mulai menyiapkan fasilitas laboratorium dan bahan ajarnya. Sehubungan dengan penyiapan SDM PLTN ini, Pusdiklat BATAN maupun tim nasional telah menjalin kerjasama dengan beberapa negara produsen PLTN diantaranya Jepang dan Korea, serta aktif berpartisipasi dalam forum internasional/regional misalnya IAEA (International Atomic Energy Agency), ANSN (Asian Nuclear Safety Network), dan FNCA (Forum for Nuclear Cooperation in Asia).
Berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki serta persiapan yang telah direncanakan maka tidak perlu diragukan lagi bahwa putra-putri Indonesia akan mampu mengoperasikan PLTN pada saat fasilitas PLTN pertama nanti beroperasi.
Drs. Hendriyanto Hadi Tjahyono, M.Si
Ka. Pusdiklat BATAN
| Diposting oleh hildan di 20.40 | 0 komentar
Sejarah Perkembangan Nuklir Di Dunia
1896
Ahli fisika Perancis Henri Becquerel menemukan gejala radioaktivitas ketika plat-plat fotonya diburamkan oleh sinar dari uranium
1898
Pierre dan Marie Curie memulai proyek yang berujung pada penemuan unsur baru – radium
1902
Ahli fisika Inggris Ernest Rutherford dan ahli kimia Frederick Soddy menerangkan peluruhan radioaktif yang mengubah unsur seperti radium menjadi unsur lain sambil menghasilkan energi
1905
Albert Einstein, pegawai paten di Bern, menunjukkan kesetaraan massa dan energi dalam persamaan E=mc, sebagai bagian dari Teori Kenisbian relativitas) Khusus. Persamaan ini meramalkan bahwa energi yang amat besar terkunci di dalam materi
1910
Soddy mengusulkan adanya isotop - bentuk unsur yang memiliki sifat-sifat kimia sama tetapi berat atomnya berbeda
1911
Rutherford, dengan menggunakan partikel alfa, menyelidiki bagian dalam atom dan menemukan intinya yang berat
1913
Francis Aston, ahli kimia Inggris, secara menyakinkan menunjukkan adanya isotop. Ahli fisika Denmark Niels Bohr mengajukan teorinya berdasarkan apa yang telah ditemukan oleh Rutherford dan teori kuantum ahli fisika Jerman Max Planck
1919
Rutherford menunjukkan perubahan nitrogen menjadi oksigen dan hidrogen setelah dibentur oleh partikel alfa. Ini adalah reaks inuklir pertama yang diamati oleh manusia
1928
Dalam langkah-langkah pertama ke arah pemahaman dasar mengenai kakas nuklir, orang Amerika Edward Condon dan Ronald Gurney dan George Gamow yang lahir di Rusia, dalam penyelidikan tersendiri, menerangkan bagaimana partikel alfa di pancarkan dari inti
1931
Deuterium, isotop berat hidrogen yang kemudian dipakai dalam bom hidrogen (bom-H) yang pertama, ditemukan ahli kimia Amerika, Harold Urey
1932
Ahli fisika Inggris John Cockroft dan ahli fisika Irlandia Ernest Walton bekerja sama dalam mengubah litium menjadi inti helium, memakai proton yang dipercepat dengan alat “pemecah atom” sederhana. Ini merupakan pembuktian ekperimental yang pertama terhadap rumus Einstein E=mc .
Neutron, partikel penyusun atom yang ternyata merupakan kunci ke arah pembelahan inti, ditemukan oleh ahli fisika Inggris James Chadwick
1933
Irene dan Frederic Joliot-Curie, ahli fisika Perancis, menunjukkan bahwa beberapa atom yang stabil, mengalami reaksi nuklir bila dibentur oleh partikel alfa dan berubah menjadi isotop tak stabil berumur pendek. Inilah keradioaktifan berumur buatan pertama
1938
Hans Bethe di Amerika Serikat berteori bahwa energi matahari berasal dari reaksi fusi, suatu proses yang memadukan dua inti ringan dan melepaskan energi yang jumlahnya besar. Istilah reaksi yang kini menghasilkan ledakan bom-H
1939
Otto Hahn dan Fritz Strassmann di Berlin menembaki uranium dengan neutron dan menemukan unsur barium yang lebih ringan sebagai hasil dari reaksi itu, tetapi tidak dapat menjelaskan percobaan munculnya barium tersebut.
Pelarian Jerman Otto Frisch dan Lise Metner menjelaskan percobaan Hahn dan Strassmann sebagai fisi - pembelahan suatu inti berat menjadi inti-inti yang lebih ringan, misalnya inti barium, dengan melepaskan banyak energi.
Frederic Jolit-Curie menunjukkan bahwa fisi satu atom uranium oleh satu neutron menghasilkan dua atau tiga neutron bebas. Ini menyarankan kemungkinan reaksi berantai; dalam reaksi ini neutron baru melanjutkan dan memperluas reaksi yang dimulai oleh pembenturan neutron awal.
Bohr meramalkan bahwa uranium-235 akan membelah bila ditembak neutron, tetapi U-235 sangat langka.
Albert Einstein di Amerika Serikat pada Lembaga Penelaahan Lanjut memperingatkan Presiden Roosevelt akan bahaya militer dari energi atom
1940
Para ahli kimia di Universitas California yang dipimpin oleh Glenn Seaborg dan Edwin McMillan menemukan plutonium, hasil penembakan U-238 yang radioaktif, dan pengganti yang baik dari U-235 yang langka
Metode difusi gas untuk memisahkan isotop-isotop uranium dikembangkan di Universitas Kolombia
1942
Dibawah pengarahan Enrico Fermi reaktor atom pertama dibangun, dan pada tanggal 2 Desember 1942, jam 15.52, berlangsung reaksi berantai pertama dalam proyek yang diprakarsai dan dikoordinasi oleh Arthur H. Compton
Suatu program atom militer A.S dengan nama sandi Proyek Manhattan, dibentuk dibawah pimpnan Mayor Jenderal Leslie R.
Groves. Di Oak Ridge, Tennessee, spektrometer massa dipergunakan untuk memproduksi U-235 murni, di bawah pengarahan Ernest O.Lawrence
Pembangunan laboratorium bom atom dimulai di Los Alamos, New Mexico, di bawah pengarahan J. Robert Oppenheimer
1943
Reaktor-reaktor dibangun di Hanford, Washington, untuk memproduksi plutonium
1945
Bom atom pertama diletuskan di Alamogordo, New Mexico, Senin 16 Juli
Bom atom pertama menghancurkan Hiroshima, Jumat 6 Agustus.
Nagasaki menjadi sasaran kedua pada tanggal 9 Agustus
1949
Uni Soviet meledakkan bom atom
1950
Presiden Harry S. Truman pada tanggal 31 Januari mengumumkan bahwa ia telah merestui Komisi Tenaga Atom untuk melanjutkan pengembangan bom-H
1952
Bom atom Inggris pertama diledakkan pada tanggal 3 Oktober di Pulau Monte Bello di lepas pantai Australia
Ledakan uji coba bom-H A.S. Yang pertama terjadi dekat Atol Eniwetok di Pasifik, pada tanggal 1 November
1953
Dalam bulan Agustus Uni Soviet meledakkan bom-H 1954
1954
USS Nautilus, kapal selam atom pertama diluncurkan
1956
Reaktor pertama menghasilkan tenaga listrik mulai bekerja di Calder Hall, Inggris
1957
Reaktor Shippingport, pembangkit listrik tenaga atom pertama di A.S mulai beroperasi
1959
Uji coba reaktor atom kecil yang pertama - KiwiA-untuk enggunaan dalam roket terjadi di lokasi pengujian Nevada
1960
Perancis meledakkan bom atom dalam uji coba di Sahara
1961
Uni Soviet melakukan uji coba bom-H terbesar (55 sampai 60 megaton) di pulau daerah kutub Novaya Zemlya
A.S. Memulai Proyek Mata Bajak, serentetan percobaan ledakan nuklir skala besar untuk maksud-maksud damai seperti misalnya pembuatan terusan
1962
A.S. Meledakkan bom-H dari roket Thor dan menciptakan suatu zona radiasi buatan manusia
Perjalanan perdana kapal nuklir Savannah A.S., Kapal dagang bertenaga atom yang pertama
Sumber: Info Nuklir
| Diposting oleh hildan di 20.38 | 0 komentar
Mengenal Bahan bakar nuklir : Plutonium
Plutonium merupakan unsur alam, karena bereaksi dengan oksigen membentuk plutonium oksida di udara, hanya sebagian kecil saja yang dapat terdeteksi. Plutonium pada bentuk plutonium oksida bersifat stabil, insoluble (tidak larut) di dalam air dan memiliki titik lebur yang tinggi. Selain itu juga dapat direaksikan dengan uranium dioksida untuk membuat bahan bakar MOX (Mixed Oxides), yang dapat dipergunakan direaktor thermal seperti PWR.
Plutonium merupakan bagian dari aktinida, yaitu kelompok yang terdiri dari 15 unsur radioaktif. Memiliki nomor atom 94 (karena memiliki 94 proton di dalam intinya) dan 16 isotop. Plutonium melepaskan radiasi dalam bentuk partikel alpha, yang dengan mudah dapat ditahan dengan selembar kertas.
Reaksi fisi di dalam reaktor umumnya menghasilkan isotop Pu-239. Selama operasi, reaktor tipe PWR umumnya mengandung sekitar 325 kg plutonium (yang diproduksi dalam bahan bakar, ketika uranium 238 di dalam bahanbakar ditembakkan neutron). Secara rata-rata, setiap tahunnya reaktor menghasilkan 20 ton bahan bakar bekas (spent fuel), yang mengandung 120 – 160 kg plutonium. Isotop ini terkungkung di dalam bahan bakar bekas, baik secara kimiawi maupun fisika.
(th.erni)
Sumber: Info nuklir
| Diposting oleh hildan di 20.37 | 0 komentar
Energi Nuklir : Kesalah Pahaman Kita Terhadap Sumber Energi Listrik
[Catatan: Artikel ini disalin dari "Reaksi" sebuah publikasi dari American Society Nuklir, volume 14 September 1998. Saya pikir itu memuji artikel lain saya membaca beberapa tahun yang lalu yang menyatakan bahwa jumlah radiasi yang dilepaskan ke lingkungan dengan powerplants bahan bakar fossle sebenarnya lebih dari yang dirilis oleh tanaman nuklir. Hal ini karena jumlah jejak natuarlly radioisotop yang terjadi ada dalam semua zat dan volume gas yang dilepaskan. Ketika Anda memikirkan kuantitas bahan bakar fossle sdi sini dibakar setiap hari, ini tampaknya masuk akal.]
Penggunaan energi nuklir untuk menghasilkan listrik secara luas disalahpahami, dan ini menyajikan masalah bagi masyarakat kita. Misalnya, bahwa kesalahpahaman menghambat pertumbuhan tenaga nuklir, tapi ada sedikit harapan bahwa Amerika Serikat dapat memenuhi tujuan udara bersih yang didirikan pada konferensi Kyoto baru-baru ini tanpa ketergantungan meningkat di atasnya.
Sebagian besar karbon dioksida dilepaskan ke atmosfir saat ini berasal dari pembangkit listrik tenaga batu-pembakaran, dan bahkan memancarkan gas alam lebih dari setengah tanaman sebanyak tanaman batubara tidak, situasinya akan memburuk karena kami menggunakan listrik meningkat. Tenaga nuklir, tentu saja, tidak memancarkan CO2 atau gas sulfur dan nitrogen menyebabkan hujan asam. Hal ini juga penting bagi kesehatan kita sebagai dibahas di bawah ini, untuk pekerjaan, dan untuk alasan lainnya.
Kurangnya pemahaman sebagian datang karena masyarakat menerima informasi terlalu-menyesatkan. Sebagai contoh, pada saat kecelakaan pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986, satu koran melaporkan "lebih dari 20.000 orang mati:" meskipun jumlah kematian hanya dikenal telah mencapai 34 pada tahun 1995. Seorang aktivis antinuclear telah mengatakan bahwa satu pon plutonium bisa membunuh delapan miliar orang, walaupun £ 10.000 telah dirilis ke atmosfer dari tes senjata dalam 50 tahun terakhir cukup dengan perkiraan untuk membunuh semua orang di bumi beberapa ribu kali. Dengan demikian, penting untuk membawa fakta tentang tenaga nuklir untuk perhatian publik, dan artikel ini merupakan salah satu upaya untuk melakukannya.
Fakta tentang efek kesehatan:
Tenaga nuklir hasil dari fissioning uranium dan plutonium, dan radiasi dilepaskan dalam proses. Banyak orang percaya radiasi "baru" dan tidak menyadari bahwa masing-masing kita menerima "radiasi latar belakang" setiap detik kehidupan kita dari matahari, bumi, di dalam tubuh kita, dan di tempat lain. jumlah besar radiasi seperti berasal dari bom atom yang mematikan (walaupun 80% dari kematian di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada tahun 1945 akibat kebakaran dan ledakan, bukan radiasi).
Namun, tingkat radiasi masyarakat menerima dari pembangkit nuklir ribuan kali di bawah ini yang terkait dengan bom. Selama operasi normal, jumlah radiasi meninggalkan pabrik sangat kecil hampir terukur.
Namun, tingkat radiasi masyarakat menerima dari pembangkit nuklir ribuan kali di bawah ini yang terkait dengan bom. Selama operasi normal, jumlah radiasi meninggalkan pabrik sangat kecil hampir terukur.
Pers selama kecelakaan juga diminimalisir; diragukan bahwa setiap anggota masyarakat akan mati dari radiasi dirilis dalam kecelakaan Mile Tiga Pulau pada tahun 1979 - hanya kecelakaan besar di Amerika Serikat dalam sejarah tenaga nuklir 37 tahun. Selanjutnya, ada argumen yang serius di kalangan ilmiah tentang apakah rendahnya tingkat radiasi bahkan berbahaya; ilmuwan di satu sisi percaya bahwa mereka adalah sederhana begitu, sedangkan di sisi lain percaya bahwa tingkat rendah tidak hanya tidak berbahaya tetapi sebenarnya menguntungkan.
Hal ini juga diperhatikan bahwa ilmuwan telah menemukan bukti efek genetik pada 30.000 anak yang lahir dari orang tua yang terkena radiasi dalam ledakan bom atom. Kebetulan, plutonium tidak "bahan yang paling mematikan di dunia" karena beberapa kali dinyatakan dalam kenyataannya, ini adalah tentang sama berbahayanya dengan radium sebelumnya digunakan pada Panggilan menonton kami Kami memiliki pengetahuan yang cukup tentang radium;.. Antara 1915 dan 1925, tentang 4.000 perempuan dipekerjakan di pabrik untuk melukis solusi radium pada dial, dan mereka melakukan ini dengan kuas kecil. Sayangnya, mereka mempertajam ujung ujung kuas dengan menyentuh kuas untuk lidah mereka, dan jumlah relatif besar radium memasuki tubuh mereka . Sekitar 2% dari pelukis akhirnya meninggal karena kanker tulang Setelah tahun 1925, hal itu dilarang menyentuh kuas untuk lidah, dan tidak ada radium lebih lanjut menyebabkan kematian akibat kanker mengakibatkan Kami memiliki bukti kurang tentang plutonium;.. tetapi, banyak orang di laboratorium dan rumah sakit (sekitar 50 sampai 75) mendapatkan plutonium ke dalam tubuh mereka, dan tampaknya tidak ada kematian telah dihasilkan dari kehadiran di sana Profesor Bernard. Cohen dari University of Pittsburgh telah menawarkan untuk makan gram plutonium untuk menunjukkan bahwa makan itu tidak lebih berbahaya daripada makan gram kafein.
Fakta tentang keamanan:
Meskipun tidak banyak menyadari, catatan keselamatan tenaga nuklir telah fenomenal.Hanya ada satu kecelakaan PLTN di dunia di mana radiasi mempengaruhi kesehatan masyarakat - yang di Chemobyl. Di sini, tiga anak telah meninggal pada tahun 1995 dari kanker tiroid. (28 personil pabrik meninggal karena radiasi dan tiga dari ledakan dan luka bakar.) Namun demikian, studi oleh International 'Badan Energi Atom pada tahun 1991 dan oleh Organisasi for Economic Co-Operation dan pengembangan pada tahun 1995 menyimpulkan tidak ada efek kesehatan lainnya yang timbul radiasi di kalangan masyarakat di mana saja.
Kita tidak tahu berapa banyak lagi radiasi induksi akan mengakibatkan kematian dari kecelakaan. Kemungkinan besar akan lebih tiroid-kanker kematian, tapi di luar itu, terdapat ketidakpastian. Para 800.000 pekerja pembersihan menerima paparan radiasi rata-rata 10 Rem (satuan cahaya), tetapi para ilmuwan tidak memiliki data atau bukti eksperimental yang menunjukkan dampak kesehatan apapun dosis 10-Rem. Untuk alasan itu dan lainnya, banyak ilmuwan percaya bahwa jumlah kematian tidak akan melebihi beberapa ratus. Sebaliknya, para ilmuwan lebih-pesimis berteori bahwa jumlahnya bisa setinggi beberapa ratus per tahun untuk beberapa dekade. Angka-angka ini harus dilihat dalam konteks menghasilkan listrik dengan metode lainnya.Sebagai contoh, 15.000 orang meninggal karena kegagalan bendungan di India pada tahun 1979.
Dalam contoh lain, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam telah memperkirakan (berdasarkan studi di Harvard School of Public Health dan di American Cancer Society) bahwa sekitar 64.000 orang meninggal prematur setiap tahun di 239 wilayah metropolitan Amerika dari kecil partikulat dilepaskan ke atmosfer dari pembakaran bahan bakar fosil. Angka ini mengekstrapolasikan untuk sekitar 100.000 kematian per tahun untuk seluruh negara. pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang terkemuka pelanggar, dan sepertiga dari kematian (33.000 per tahun) diperkirakan hasil dari discharge dari pembangkit listrik yang menghasilkan. Untuk seluruh dunia, jumlahnya akan jauh lebih tinggi. Sejak pembangkit nuklir tidak memancarkan partikulat, mereka mungkin menyelamatkan ribuan nyawa tahunan dengan mengganti pembangkit tenaga batubara.
Kebetulan, Chernobyl-jenis tanaman belum dan tidak dapat dibangun di AS
Fakta tentang limbah:
limbah nuklir dari digunakan (atau dikeluarkan) bahan bakar sangat radioaktif dan harus diisolasi dari kontak dengan orang-orang untuk jangka waktu yang lama.kelompok Antinuclear dan beberapa negara pemimpin politik berulang kali bahwa masalah pembuangan limbah tidak terpecahkan, dan masyarakat datang untuk percaya ini. Namun, sebagian besar masyarakat kita ilmiah dan rekayasa percaya sampah dapat dengan mudah dibuang oleh pemakaman di bawah tanah - di mana ia akan berbahaya. Masalah ini juga harus dilihat dalam konteks menghasilkan listrik dengan metode lainnya. Bahan bakar bekas dari sebuah pabrik nuklir mampu memasok listrik untuk sebuah kota sekitar 550.000 orang akan berjumlah sekitar 40 ton per tahun bahan padat dengan titik lebur sekitar 5.000 derajat F. Buku ini adalah ukuran beberapa mobil dan cukup kecil sehingga dapat dengan mudah dimasukkan kembali ke dalam kerak bumi dari yang awalnya berasal uranium.
Sebaliknya, pabrik batu bara ukuran setara akan menghasilkan sekitar 7.000.000 ton karbon dioksida, 5.000 ton oksida nitrogen, partikulat 1.400 ton, 1.000 ton sulfur dioksida, dan hingga 1, 000,000 ton abu. Jumlah ini sangat produktif yang kita tidak memiliki solusi yang dapat diterima untuk menangani mereka. Kita bisa hanya debit gas ke atmosfir yang kita hirup dan di mana mereka berkontribusi terhadap perubahan iklim global dan hujan asam. Partikulat juga, masuk ke suasana seperti yang dibahas sebelumnya. Kami membuang abu (kadang-kadang berisi ratusan ton arsenik beracun, kadmium, timah, dan merkuri) di permukaan bumi. Jadi, ada argumen yang kuat bahwa listrik dari pembangkit nuklir harus lebih disukai daripada yang dari tumbuhan fosil karena kemampuan kita untuk menangani limbah. Bahkan, tampaknya ironis bahwa beberapa negara larangan pembangunan pabrik nuklir baru "sampai masalah sampah diselesaikan", sedangkan ada batasan tersebut ditempatkan pada tanaman fosil di mana tidak ada solusi untuk penanganan CO2 bahkan dimaksud.
Fakta tentang pencurian dan pengalihan:
Fakta tentang pencurian dan pengalihan:
Masyarakat bertanya-tanya apakah bahan bakar nuklir bisa dicuri oleh kelompok teroris dan digunakan untuk membuat bahan peledak. Jawaban praktis adalah "Tidak".bahan bakar segar biasanya terdiri dari uranium terdiri dari sekitar 96% U-238 dan 4% U-235; materi tersebut tidak dapat dibuat untuk meledak. bahan bakar bekas berisi uranium dan plutonium (yang dibuat selama operasi pembangkit dari U-238), tapi akan hampir mustahil untuk sebuah kelompok di Amerika Serikat untuk mencuri bahan bakar dan kemudian merancang dan membangun sebuah bom sukses.
kelompok-kelompok tersebut di negara-negara lain akan mengalami kesulitan besar, juga. Tentu saja, negara mengembangkan senjata nuklir, tetapi tidak ada negara di dunia mengembangkan senjata dari program tenaga nuklir komersial (kecuali mungkin India); semua senjata dibangun sebelum mereka membangun pembangkit listrik.
Fakta tentang biaya:
Banyak generasi pertama tanaman belum ekonomis karena berbagai alasan.
Namun, tanaman standar telah dirancang dan sedang disetujui oleh Komisi Pengaturan Nuklir AS. Mereka akan dibangun di situs preapproved. Tanaman ini generasi kedua diharapkan dapat bersaing dengan tanaman batubara dan untuk menyediakan listrik tidak lebih dari 10% sampai 15% di atas biaya listrik dari pembangkit gas alam.
Namun, tanaman standar telah dirancang dan sedang disetujui oleh Komisi Pengaturan Nuklir AS. Mereka akan dibangun di situs preapproved. Tanaman ini generasi kedua diharapkan dapat bersaing dengan tanaman batubara dan untuk menyediakan listrik tidak lebih dari 10% sampai 15% di atas biaya listrik dari pembangkit gas alam.
Biaya jumlah besar listrik dari uranium, batubara, dan gas alam jauh di bawah yang dihasilkan dari sumber lain seperti energi matahari atau angin. Perancis ekspor listrik dari pembangkit nuklir untuk keuntungan.
Ringkasan:
Singkatnya, persepsi publik tentang tenaga nuklir sering salah.
Listrik dari energi nuklir menawarkan banyak manfaat bagi masyarakat dan waran pertimbangan serius sebagai metode yang disukai untuk menghasilkan listrik. (dimas irawan)
Sumber: info nuklir
Langganan:
Postingan (Atom)